Kamis, 11 Maret 2010

Melibas Kanker dengan Ekstrak Daun Pepaya


Florida, Berbagai pengobatan alami diklaim bisa melawan sel-sel kanker. Peneliti menemukan ekstrak daun pepaya bisa efektif melawan berbagai tumor dan menjadi pengobatan tradisional.

Peneliti Nam Dang dari University of Florida dan rekannya dari Jepang mendokumentasikan efek anti kanker dari pepaya terhadap tumor leher rahim, payudara, hati dan pankreas. Laporan penelitian ini juga telah dipublikasikan dalam Journal of Ethnopharmacology.

Para peneliti menggunakan ekstrak yang dibuat dari daun pepaya kering dan ternyata efek yang dihasilkan bisa lebih kuat. Dang dan ilmuwan lainnya menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya bisa meningkatkan produksi molekul sinyal kunci yang disebut sitokin tipe Th1, molekul ini membantu mengatur sistem kekebalan tubuh.

"Hal ini bisa menjadi terapi perawatan untuk melawan sel-sel kanker dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh," ujar peneliti dalam jurnal yang dirilis bulan Februari lalu, seperti dikutip dari AFP, Rabu (10/3/2010).

Para ilmuwan menuturkan bahwa ekstrak daun pepaya tidak memiliki efek toksik terhadap sel normal, hal ini tentu saja dapat menghindari efek samping yang umumnya selalu timbul pada beberapa pengobatan kanker.

Peneliti menggunakan 10 tipe sel kanker yang berbeda dengan variasi 4 ekstrak daun pepaya dan mengukur efeknya setelah diberikan ekstrak daun pepaya selama 24 jam. Hasil yang ditemukan menunjukkan ekstrak daun pepaya ini bisa memperlambat pertumbuhan sel kanker pada semua medium yang berbeda.

Hasil penelitian masih membutuhkan waktu yang panjang dan tentunya akan lebih dikembangkan hingga bisa dilakukan uji klinis terhadap hewan percobaan yang nantinya dapat diujicobakan pada manusia. Jika penelitian ini berhasil, maka akan tercipta suatu pengobatan baru untuk melawan sel kanker dengan menggunakan bahan tradisional.

Kelas Musik Tajamkan Pendengaran Anak Usai Implan Koklea


Taipei, Anak yang mengalami masalah pendengaran bisa disembuhkan dengan pemasangan atau implan koklea (rumah siput telinga bagian dalam). Mengikuti kelas musik setelah operasi bisa mempertajam kemampuannya menangkap suara.

Implan koklea adalah prosedur penanaman alat bantu dengar berupa elektroda yang dilakukan melalui tindakan operasi pada tulang temporal untuk menggantikan fungsi koklea sebagai organ pendengaran.

Alat ini membantu mereka memahami pembicaraan dan suara lain dalam lingkungannya. Implan bekerja dengan melewati bagian telinga dalam yang rusak dan langsung menuju saraf pendengaran.

Terapi intensif yang dilakukan pasca implantasi dapat membantu anak-anak yang tuli untuk belajar berbicara dan memahami bahasa.

Namun menurut studi yang dipimpin oleh Dr. Joshua Kuang-Chao dari Chen of Cheng Hsin General Hospital di Taipei, Taiwan, anak-anak ini sulit untuk menikmati suara musik setelah melakukan implan koklea.

"Sangan penting bahwa anak-anak yang menjalani implan koklea bisa belajar untuk menghargai musik dan tujuan utama dari implantasi koklea ini adalah untuk membantu pendengaran anak-anak ini agar bisa kembali ke sekolah normal," ujar Dr Lieber Po-Hung Li yang terlibat dalam penelitian ini, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (11/3/2010).

Li menambahkan mengikuti kelas musik ini merupakan terapi yang penting, karena musik termasuk dalam tipe suara yang paling rumit di dunia. Untuk itu peningkatan persepsi ini tidak hanya mempengaruhi pengalaman musiknya tapi juga persepsi mereka terhadap jenis suara lain.

Secara keseluruhan anak kecil yang mengikuti kelas musik selama 20 bulan dapat meningkatkan persepsi suaranya menjadi 92,5 persen, sedangkan jika hanya 3 bulan saja dapat meningkatkan persepsinya sebesar 56 persen.

Untuk studi ini, peneliti menganalisis 27 anak usia 5-14 tahun yang menjalani implan koklea. Chen menemukan semakin lama anak-anak mengambil kelas musik, maka semakin baik persepsinya terhadap beberapa jenis suara.

Hasil studi ini telah diterbitkan dalam jurnal Pediatrics.

20 Penyakit dan Makanan yang Harus Dipantang


Jakarta, Makanan membuat manusia bertahan hidup. Namun makanan juga menjadi musuh jika seseorang menderita penyakit. Menghindari makanan yang dipantangkan adalah cara terbaik yang dapat dilakukan penderita berbagai macam penyakit.

Menjauh dari makanan yang dipantangkan adalah langkah pencegahan agar penyakit yang diderita tak sering-sering kambuh yang bisa menggangu aktifitas sehari-hari.

Berikut adalah jenis penyakit dan pantangannya, seperti dikutip dari eHow dan BBCNews, healthandage, Kamis (11/3/2010).

1. Jantung
Hindari makanan yang berlemak, seperti daging, jeroan, minyak santan serta makanan yang mengandung banyak garam.

2. Hepatitis A
Hindari buah-buahan dan sayuran mentah, terutama yang tidak bisa dikupas. Hindari kerang mentah, tiram, remis, mayones, keju, krim, yogurt dan hindari makan ikan dari perairan yang berpotensi terkontaminasi.

3. Anemia
Kurangi konsumsi kafein dan alkohol karena bisa mengikat darah. Makan makanan yang kaya zat besi seperti apel, pisang, aprikot, plum, asparagus, labu, ubi rambat, brokoli dan sayuran berdaun hijau, daging merah, tahu dan biji-bijian.

4. Diabetes
Hindari konsumsi makanan yang mengandung gula, tepung dan tinggi karbohidat. Juga hindari buah-buahan seperti durian, air kelapa, pisang ambon.

5. Kanker
Hindari makanan yang banyak mengandung akrilamida, yang terdapat pada makanan yang dipanggang dan digoreng seperti kentang goreng, keripik, roti goreng, biskuit, kerupuk dan sarapan sereal.

6. Liver
Hindari makanan yang mengandung banyak protein seperti daging, susu, kacang-kacangan, dan produk kedelai. Juga hindari makanan yang mengandung banyak garam.

7. Asma
Hindari makanan yang menyebabkan produksi lendir berlebih seperti susu, keju dan produk susu lainnya, gula putih, tepung putih, roti putih dan coklat. Hindari juga makanan yang dapat menyebabkan reaksi alergi seperti telur, susu, gandum, ikan, kerang, kacang-kacangan, kedelai dan kacang tanah, serta makanan yang mengandung sulfida seperti acar, sayuran dan buah-buahan kering, dan udang.

8. Maag
Hindari konsumsi kafein, makanan pedas, makanan pedas seperti daging dan jeroan, minuman berkarbonasi, susu, jeruk, dan tomat.

9. Migrain
Hindari konsumsi rokok, minuman beralkohol, kopi, cokelat dan produk-produk cokelat, teh hitam dan hijau dan minuman ringan. Hindari juga makanan dengan bahan pengawet dan aditif seperti MSG ((monosodium glutamat), kaldu ekstrak, atau produk protein nabati terhidrolisis dengan label yang menyebutkan "rasa alami".

10. Wasir
Jangan makan makanan yang bersifat panas dan mengandung lemak (penyebab sembelit) seperti makanan pedas, daging, jeroan, dan juga junk food. Makanlah makanan yang mengandung banyak serat, seperti sayuran, roti gandum, buah, sereal, dan kacang-kacangan.

11. Sinusitis
Hindari makanan yang digoreng, tepung makanan, gula putih, tepung terigu, beras, pai, rempah-rempah yang kuat, daging dan produk daging.

12. Autis
Hindari makanan yang mengandung protein gluten seperti gandum, oat, barley, makanan kasein pada susu, pancake, pemanis buatan.

13. Rematik
Hindari makanan yang banyak mengandung lemak seperti daging dan produk daging, kerupuk jengkol, mentega, krim, sosis, daging ham, telur, dan semua produk susu.

14. Tifus
Hindari makanan berserat tinggi seperti gandum utuh dan biji-bijian. Juga hindari kacang mete mentah, kubis, paprika, lobak, bawang putih, bawang merah, rempah, acar, makanan yang digoreng, daging, semua jenis buah-buahan mentah kecuali pisang dan pepaya.

15. Malaria
Makanan yang harus dihindari adalah kopi, teh kental, makanan olahan, saus, bumbu masak, acar, gula, tepung putih, minuman beralkohol, dan semua produk daging.

16. Keputihan
Hindari makanan yang dapat merangsang lendir seperti nanas, ketimun, telur, dan udang.

17. Osteoporosis
Hindari makanan berlemak seperti daging, susu, santan, margarin, hotdog, hamburger, kopi dan minuman berkafein, coklat, dan minuman berkarbonasi.

18. Epilepsi
Hindari makanan yang mengandung glutamin (asam amino yang dapat menyebabkan serangan epilepsi) seperti biji-bijian, gandum, oat, susu yang kadar glutamin tinggi, kacang-kacangan, kedelai, dan produk daging terutama daging kelinci.

19. Demam Berdarah
Hindari makanan cepat saji (junk food), makanan berlemak seperti daging, santan, susu tinggi lemak. Perbanyak konsumsi buah dan air putih.

20. Prostat
Hindari minuman berkafein seperti kopi, makanan pedas, makanan lemak terutama daging merah, dan juga alkohol.

Bisakah Minus Mata Berkurang Tanpa Operasi?


Jakarta, Bagi orang yang bertahun-tahun memakai kacamata tentu ingin sekali terbebas dari benda yang satu ini. Sayangnya untuk menghilangkan minus pada mata bukan hal mudah karena harus melalui operasi. Bisakah minus mata berkurang tanpa operasi?

"Minus mata tidak bisa diturunkan atau disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan tapi hanya bisa dihilangkan melalui cara operasi atau menggunakan metode laser," ujar Dr Virna Dwi Oktariana, SpM disela-sela acara peringatan pekan glaukoma sedunia di Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (11/3/2010).

Dr Virna mengatakan meski minus mata tidak bisa turun tapi minus bisa tetap dijaga agar tidak bertambah besar. Mata minus tidak bisa dikontrol hanya dengan mengonsumsi wortel atau vitamin A saja. Yang terpenting harus menghindari kegiatan-kegiatan yang dapat menyebabkan bertambahnya minus yang sudah ada. Mata minus dikatakan berat jika sudah di atas minus 3.

Karena mata minus tidak bisa disembuhkan selain dengan jalan operasi, sebaiknya bagi orang yang masih memiliki mata normal menerapkan kebiasaan tersebut untuk mencegah minus pada matanya.

Dr Virna menuturkan penyebab mata minus salah satunya adalah faktor genetik. Karenanya jika salah satu orangtua atau didalam keluarganya ada yang menggunakan kacamata, kemungkinan anaknya juga bisa menggunakan kacamata. Diduga ada gen tertentu di dalam tubuh yang membawa gen minus sehingga menyebabkan mata minus ini menjadi masalah genetik.

"Jika si perempuan memiliki minus tinggi sebaiknya cari pasangan yang matanya masih normal. Karena ada kemungkinan gen mata minus ini bisa tertutup oleh gen mata normal dari suaminya," ujar dokter yang berpraktik di RSCM.

Selain faktor genetik, ada juga faktor kebiasaan yang membuat seseorang memiliki mata minus tapi biasanya minus yang dimiliki tidak terlalu tinggi. Salah satu penyebab mata minus karena mata cepat merasa lelah akibat sering membaca dalam jarak dekat atau terlalu lama berada di depan komputer.

"Karenanya orang yang sering berada di depan komputer rata-rata memakai kacamata," tambahnya.

Dr Virna memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menjaga agar mata tetap sehat dan normal atau agar minusnya tidak bertambah, yaitu:

1. Berilah jarak yang cukup antara mata dengan objek yang dilihat baik saat membaca atau menggunakan komputer.
2. Gunakan pencahayaan yang cukup terang dan jangan membaca dalam suasana remang atau redup.
3. Sebaiknya tidak membaca sambil tiduran, karena posisi ini akan membuat mata cepat capek akibat jarang pandang yang berubah-ubah membuat mata menjadi tidak fokus.
4. Usahakan jangan terlalu lama berada di depan komputer, sebaiknya setiap dua jam sekali mata diistirahatkan dengan cara memejamkan mata selama 10 menit atau melihat pemandangan yang hijau selain layar komputer.
5. Mengurangi makanan yang tinggi protein karena diduga bisa menambah minus pada mata.
6. Mengosumsi segala jenis sayuran dan buah-buahan.

Jadi 6 Rasa, Lidah Mampu Mendeteksi Rasa Lemak


Sydney, Selama ini lidah manusia diketahui memiliki kemampuan mengecap lima rasa pahit, manis, asin, asam, dan kaya protein (gurih). Kini ilmuwan memasukkan rasa keenam yakni rasa lemak yang berbeda dari rasa-rasa itu.

Peneliti di Deakin University, bekerja dengan rekan-rekan dari University of Adelaide, menemukan lidah manusia dapat mendeteksi rasa lemak. Orang-orang yang peka terhadap rasa lemak cenderung makan lebih sedikit, sehingga tidak mengalami kelebihan berat badan.

Rasa gurih (savory) seperti halnya bahan untuk penyedap rasa dan makanan yang berprotein tinggi ditemukan pada Agustus 2006 dan dimuat dalam jurnal Nature.

Sedangkan pada Agustus 2008, ilmuwan genetik Michael Tordoff juga telah menemukan rasa kalsium yang bisa dideteksi lidah. Rasa kalsium ini seperti rasa pada air tawar. Namun rasa kalsium ini masih jadi perdebatan karena sebagian menilai rasa kalsium seperti air tawar adalah tak berasa.

Peneliti Deakin University, Russell Keast mengatakan bahwa temuan sebelumnya di Amerika Serikat telah menggunakan model hewan untuk menemukan rasa lemak.

"Yang menarik, kami juga menemukan bahwa mereka yang memiliki kepekaan tinggi terhadap rasa lemak akan makan lebih sedkit sehingga memiliki BMI (body-mass indices atau indeks massa tubuh) lebih rendah daripada mereka yang kurang peka," kata Keast, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (11/3/2010).

Tim peneliti mengembangkan prosedur screening (penyaringan) untuk menguji kemampuan orang mencicipi beragam asam lemak yang biasa ditemukan dalam makanan.

Peneliti menemukan bahwa orang yang memiliki ambang rasa untuk lemak bervariasi dan berbeda tiap orangnya. Ada yang memiliki sensivitas yang tinggi adapula yang tidak sama sekali.

Menurut Keast, lemak yang mudah diperoleh dan biasa dikonsumsi dalam makanan harian menunjukkan bahwa sistem rasa manusia dapat menjadi lebih peka dari waktu ke waktu.

Keast tertarik untuk memahami mengapa sebagian orang lebih sensitif dan yang lain tidak. Dia percaya ini akan mengarah pada cara-cara yang dapat membantu orang mengurangi konsumsi lemak serta pengembangannya pada makanan rendah lemak dan diet.

Peneliti mengatakan penemuan rasa lemak dapat menjadi kunci untuk mengurangi obesitas. Hasil studi ini telah diterbitkan dalam edisi terakhir British Journal of Nutrition.

Jangan Sampai Mata Buta Karena Telat Deteksi Glaukoma

Jakarta, Jalan sering kesandung, jatuh dan suka nabrak adalah ciri-ciri terjadinya gangguan penglihatan. Kalau cuma mata minus atau plus bisa dibantu dengan kacamata, tapi kalau sudah terkena glaukoma taruhannya mata bisa buta.

Pakar menyarankan jangan sampai mata buta akibat glaukoma karena telat dideteksi. Mata memegang peranan penting dalam hidup manusia, sebesar 83 persen informasi yang didapatkan seseorang setiap harinya berasal dari mata.

Jika seseorang mengalami masalah pada penglihatannya, maka secara otomatis hal ini juga bisa membuat kualitas hidupnya menurun.

Di Indonesia glaukoma telah menjadi penyebab kebutaan nomor dua setelah katarak. Berbeda dengan katarak yang masih bisa dioperasi, glaukoma adalah 'si pencuri penglihatan' yang tidak bisa disembuhkan karena kerusakan yang terjadi pada saraf matanya.

"Glaukoma menyebabkan kebutaan permanen dan hanya bisa dicegah dengan cara deteksi dini. Kebanyakan pasien tidak menyadari bahwa dirinya menderita glaukoma, sehingga rata-rata baru ke rumah sakit setelah mengalami kebutaan di salah satu mata atau kedua matanya. Karena itu glaukoma disebut juga sebagai 'si pencuri penglihatan'," ujar Dr Tjahjono D Gondhowiardjo, SpM(K),PhD dalam acara seminat dan deteksi dini glaukoma di Kemenkes Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (10/3/2010).

Glaukoma adalah salah satu kondisi kerusakan saraf mata yang disertai dengan berkurangnya lapangan pandang, hal ini terkait dengan beberapa faktor yang salah satunya akibat tekanan bola mata yang tinggi.

Tekanan bola mata yang normal adalah sekitar 10-21 mmHg, jika tekanan bola matanya melebihi batas itu maka berisiko terkena glaukoma yang bisa mengakibatkan kebutaan permanen.

"Kerusakan saraf yang terjadi membuat aliran cairan di mata terhambat sehingga menjadi bengkak, akibat aliran yang terganggu ini membuat tekanan bola mata menjadi tinggi," tambahnya.

Badan kesehatan dunia (WHO) menuturkan sebanyak 90 persen kasus glaukoma di negara berkembang tidak terdeteksi. Hal ini disebabkan deteksi untuk penyakit glaukoma cukup sulit dan membutuhkan peran aktif dari masyarakat serta dukungan dari pelayanan kesehatan dan pemerintah.

"Salah satu cara untuk mencegah glaukoma adalah dengan melakukan deteksi dini terutama bagi orang yang sudah berusia di atas 40 tahun. Biasanya orang yang glaukoma juga ada yang menunjukkan gejala seperti kesandung, jatuh, suka nabrak tapi hanya sedikit yang merasa sakit," ujar ketua Perdami (Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia).

Penyakit glaukoma, menurut Dr Virna dibagi menjadi dua tipe yaitu glaukoma akut (biasanya mudah terlihat) dan glaukoma kronik.

Glaukoma akut:

1. Lebih mudah terdeteksi dengan menggunakan lampu senter.
2. Tanda yang terlihat adalah lapisan kornea mata yang hitam akan berwarna keruh
3. Mata merah dan mengalami nyeri hebat yang rasanya mata seperti mau copot
4. Diikuti dengan mual dan muntah.


Penyebabnya:

1. Anatomi mata yang lebih kecil dari mata normal, diameter kornea lebih kecil dan hipermetropi (menggunakan kacamata lensa plus).
2. Pencetus lainnya yaitu emosi, obat-obatan, lensa yang menggendut (swolen lens) dan penerangan yang redup.


"Salah satu gejala untuk glaukoma akut juga bisa dilihat melalui cahaya, jika seseorang dari ruangan terang masuk ke ruang gelap dan mata terasa sakit, tapi sakitnya hilang ketika orang tersebut kembali ke ruangan yang terang. Ini bisa menjadi indikasi awal," ujarnya.

Glaukoma kronik:

1. Tidak menunjukkan gejala dan hanya bisa diketahui melalui deteksi dini.
2. Mata terlihat normal dan kerusakan saraf terjadi secara pelan-pelan sehingga tidak disadari.


Faktor risiko:

1. Ada anggota keluarga yang menderita glaukoma
2. Mengalami myopia (menggunakan lensa minus berat atau diatas minus 3)
3. Memiliki penyakit hipertensi, hipotensi, migren, gangguan vaskuler dan diabetes melitus.


Jika glaukoma bisa dideteksi lebih dini, perawatan yang diberikan bisa dengan menggunakan obat-obatan untuk menurunkan tekanan bola mata sehingga bisa mencegah kebutaan.

Tapi jika obat-obatan sudah tidak mempan, maka jalan satu-satunya adalah melalui tindakan laser atau operasi untuk membuat saluran baru agar cairan dalam bola mata bisa keluar.

"Pemeriksaan yang dilakukan untuk deteksi dini glaukoma adalah dengan alat tonometri untuk melihat tekanan bola mata dan alat ophtalmoskopi untuk melihat ada kerusakan di saraf mata atau tidak," ujar DR Dr Ike Sumantri Wiyogo, SpM, ketua Seminat Glaukoma Perdami.

Sedangkan untuk deteksi dini di puskesmas bisa menggunakan alat chiotz yang berguna untuk mengukur tekanan bola mata secara sederhana.

"Glaukoma merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, sama seperti hipertensi atau DM yang membuat pasiennya harus mengonsumsi obat terus menerus dan harus tetap mengontrol tekanan bola matanya agar tidak naik lagi. Karena itu deteksi dini penting dilakukan," ujar dokter yang juga menjadi kepala departemen mata FKUI/RSCM.

Senin, 01 Maret 2010

Selidik Makanan Pemicu Migren


Mungkin Anda tidak menyadari gejala sakit kepala migren yang kerap terjadi disebabkan kurangnya perhatian terhadap pola makan. Selain itu, tak jarang migren dianggap remeh.

Perlu diketahui migren adalah nyeri kepala berdenyut yang kerap kali disertai mual, dan muntah. Biasanya penderitanya, sensitif terhadap cahaya, suara bahkan wewangian.

Sering kali migren mendera satu sisi kepala saja dan kadang pula berpindah ke sisi sebelahnya. Bahkan bila terhitung parah mengenai dua sisi sekaligus.

Walaupun obat-obatan biasanya menjadi andalan menghadapi migren. Faktor pencegahan lain melalui asupan makanan turut berperan. Berikut keterangan US National Library Medicine mengenai makanan pemicu migren, antara lain:

* Makanan yang diproses, difermentasi, marinated atau didiamkan dengan menggunakan bahan tertentu serta pengasaman.
* Bahan makanan yang dipanggang.
* Makanan yang mengandung bahan pengawet jenis monosodium glutamat (MSG).
* Makanan dengan kandungan tyramine seperti minuman anggur merah, ikan asap, keju yang sudah diawetkan dengan waktu lama, hati ayam, buah ara serta beberaja jenis kacang.
* Daging yang diawetkan.
* Buah jeruk, pisang atau alpukat.
* Kacang atau selai kacang.
* Bawang merah.