Rabu, 02 Juni 2010

Sayur & Buah yang Paling Banyak dan Sedikit Menyerap Pestisida


Dalam jumlah tertentu, penggunaan pestisida untuk tanaman buah dan sayur masih dapat ditolerir tubuh. Ada sayuran dan buah yang paling rentan menyerap pestisida tapi ada juga buah dan sayur berkulit tebal yang sedikit terkena kontaminasi pestisida.

Buah dan sayur sudah dipercaya sebagai makanan sehat yang kaya serat. Tapi laporan kesehatan terbaru justru menemukan 67 jenis pestisida yang akhirnya membuat buah dan sayur 'kotor'.

Environmental Working Group, yang merupakan kelompok nirlaba AS yang fokus pada masalah, meneliti hampir 100.000 buah dan sayur yang diduga mengandung pestisida. Hal ini untuk menentukan buah dan sayur mana yang memiliki residu (sisa) bahan kimia berbahaya tersebut.

Yang paling dikhawatirkan adalah buah dan sayur yang dijuluki 'dirty dozen', yang berisi 47-67 pestisida per porsi. Ini adalah makanan yang diyakini paling rentan karena memiliki kulit lembut dan tipis, sehingga cenderung lebih banyak menyerap pestisida.

Pestisida merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat atau membasmi hama, penyakit dan gulma yang tidak berpengaruh pada tanaman. Pestisida seringkali disebut sebagai 'racun'. Tapi banyak petani yang menggunakan pestisida untuk mencegah kerusakan atau pembusukan.

Bila paparan pestisida terlalu banyak, maka pestisida bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti kanker, ADHD pada anak, gangguan sistem saraf dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.

"Sangat penting untuk mengetahui buah dan sayur apa saja yang mengandung banyak pestisida," ujar Amy Rosenthal dari Environmental Working Group, seperti dilansir dari CNN, Rabu (2/6/2010).

Rosenthal juga menuturkan bahwa kelompoknya melakukan pengujian pestisida setelah buah dan sayur dicuci dengan air dengan sistem bertekanan tinggi USDA (USDA high-power pressure water system).

Berikut kelompok 'dirty dozen' atau 12 buah dan sayur yang paling banyak menyerap pestisida:

1. Seledri
2. Persik
3. Stroberi
4. Apel
5. Blueberry
6. Nektarin (Peach)
7. Paprika
8. Bayam
9. Ceri
10. Kentang
11. Anggur
12. Selada


Sedangkan lapisan kulit dari buah dan sayur yang tebal dapat mencegah kontaminasi pestisida. Kelompok buah dan sayur tersebut dijuluki 'Clean 15', yaitu yang memiliki tingkat pestisida rendah atau bahkan tidak ada sama sekali:

1. Bawang
2. Alpukat
3. Jagung manis
4. Nanas
5. Mangga
6. Kacang polong
7. Asparagus
8. Buah kiwi
9. Kubis
10. Terong
11. Melon kuning
12. Semangka
13. Jeruk Bali
14. Ubi jalar
15. Bawang bombay

Minggu, 30 Mei 2010

Tips Sehat Alami Mengatasi Sakit Kepala


Ugh … sakit kepala lagi! Apakah Anda tidak khawatir terlalu sering mengkonsumsi obat warung jika mengalami keluhan sakit kepala? Selain menenggak obat, ada cara alami untuk mengatasinya. Simak tips berikut ini. jika Anda tiba-tiba mengalami gangguan kesehatan di kemudian hari bisa jadi itu disebabkan oleh obat sakit kepala yang sering Anda konsumsi. Padahal pemicu timbulnya sakit kepala bisa dari mana saja. Terlalu lama duduk di depan AC atau komputer, syaraf tegang, badan kecapean atau stres bisa saja membuat Anda sakit kepala. Untuk menghindari rusaknya jaringan kesehatan kita, ada baiknya kita mengurangi konsumsi obat-obat sakit kepala dan mencoba mengatasinya dengan cara alami.
Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan, diantaranya seperti di bawah ini.
1. Mungkin Anda terlalu tegang. Sakit kepala bisa disebabkan letak leher tidak benar yang menyebabkan pegal. Cobalah kompres dahi dan leher bagian belakang Anda dengan kain hangat. Bisa juga Anda kompreskan kain tersebut ke bagian kepala yang terasa sakit. Rasa hangat yang dihantarkan oleh kompres bisa membantu mengendurkan ketegangan.
2. Kebiasaan minum teh ada baiknya. Namun kandungan kafein yang dibawa oleh teh dan kopi bisa menjadi memicu munculnya sakit kepala. Ada baiknya Anda mengurangi jumlah teh dan kopi yang Anda konsumsi setiap harinya.
3. Coba lakukan pemijatan syaraf. Pijat telapak tangan Anda, khususnya di bagian tengah jari telunjuk dan ibu jari. Pijat secara perlahan dan cobalah untuk relaks.
4. Dehidrasi mendatangkan sakit kepala. Terkadang sakit kepa.la bisa menjadi tolak pengukur. Usahakan untuk menjaga kadar air dalam tubuh Anda dengan mengkonsumsi air putih. Setiap harinya tubuh kita setidaknya memerlukan 8 gelas air putih. Sudahkah Anda menjalankannya dan mencegah tubuh Anda mengalami dehidrasi? Ketika sakit kepala telah menyerang, minumlah air putih hangat untuk mengurangi rasa sakit.
5. Jika Anda langganan sakit kepala, ada baiknya Anda meminum suplemen makanan. Usahakan suplemen tersebut mengandung kalsium dan magnesium. Jika kebutuhan kalsium dan magnesium dalam tubuh Anda tercukupi, dijamin ketegangan otot Anda akan berkurang.
6. Meditasi dapat membantu mengatasi ketegangan otot dan saraf sehingga rasa sakit kepala dapat dikendalikan. Untuk menguasai tehnik meditasi yang baik tentunya Anda harus banyak berlatih. Saat Anda mengisi waktu istirahat, usahakan Anda juga mengistirahatkan pikiran.
7. Posisi duduk saat Anda melakukan pekerjaan atau sedang asyik di depan komputer bisa saja menjadi penyebab sakit kepala. Perbaiki posisi duduk Anda. Usahakan jangan menempatkan punggung terlalu rendah. Hal ini dapat menyebabkan sakit pada bagian lain seperti otot leher dan bahu yang menegang dan membantu prosesnya terjadi sakit kepala.
8. Gunakan aroma terapi untuk relaksasi Anda. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, ada baiknya Anda berendam di air hangat dengan menggunakan aroma chamomile atau lavender. Meletakkan aroma terapi di kamar tidur Anda juga bisa mengurangi ketegangan setelah menghadapi semua kesibukan.
Jangan anggap sepele sakit kepala. Jika tak bisa diatasi lagi, Anda harus berhati-hati. Untuk memastikannya, konsultasikan penyakit sakit kepala Anda kepada dokter.

Berjalan Kaki, Langkah Sehat Halau Diabetes dan Sakit Jantung


Apakah Anda termasuk orang yang malas berolahraga? Jika iya, maka berjalan kaki merupakan alternatif pengganti olahraga yang manfaatnya tak kalah efektif. Sebuah studi mengungkap, berjalan kaki membuat metabolisme tubuh berjalan optimal.

Seperti diketahui, metabolisme tubuh yang tidak berjalan normal berkaitan erat dengan sejumlah faktor pemicu resiko penyakit jantung dan diabetes seperti kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi, minimnya kadar kolesterol baik.

Peneliti dari Pennington Biomedical Research Center, Peter T. Katzmarzyk menyatakan, keberadaan sejumlah faktor pemicu menjadikan individu kian rentan ketimbang seseorang yang tidak memiliki faktor pemicu.

"Banyak individu yang memiliki kelebihan berat badan mengalami masalah dengan metabolisme tubuhnya, tetapi bagi individu dengan berat normal juga mengalami masalah yang sama," tegasnya seperti dikutip dari Healthday, akhir pekan lalu.

Sebelumnya, di tahun 2005-2006, Katzmakzyk bersama koleganya mencatat rekaman keseharian 1446 orang dewasa berusia rata-rata 47.5 tahun. Partisipan dengan catatan akselerometer (alat yang mengukur seberapa jauh seseorang berjalan) terbagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama, individu yang berjalan kurang dari 5.000 langkah per hari, kedua, individu yang berjalan rata-rata antara 5.000 hingga 9.000 langkah perhari dan ketiga, individu yang berjalan rata-rata lebih dari 10.000 langkah perhari.

Usai mendata setiap partisipan, peneliti lalu melihat beberapa faktor pengiring seperti kelamin dan usia. Dari temuan peneliti diketahui, lebih dari 56 persen yang memiliki jumlah langkah sedikit bermasalah dengan metabolisme tubuhnya. Namun, 13 persen dari individu yang rajin berjalan kaki juga mengalami masalah yang sama. Secara keseluruhan, sepertiga partisipan memiliki masalah dengan metabolisme tubuhnya.

Sementara itu, pada kelompok kedua, peneliti mencatat Lebih dari 40 persen partisipan kelompok kedua memiliki kemungkinan terhindar dari gangguan metabolisme. Sedangkan pada kelompok ketiga, sebanyak 72 persen partisipan kemungkinan terhindar dari gangguan metabolisme tubuh.

Peneliti juga mencatat setiap 1.000 langkah tambahan berdampak pada penurunan 8-13 persen lemak di pinggang, penurunan kolesterol jahat dan meningkatnya kolesterol baik. "Terdapat semacam tren disana (hasil riset). Hasil riset bukanlah sekedar angka ajaib, Sesuatu lebih baik ketimbang tidak sama sekali, dab sesuatu yang lebih tentu jauh lebih baik," tukasnya.

Secara terpisah, Peneliti dari University of Tennessee, David R. Bassett Jr mengatakan studi baru memperlihatkan hasil yang signifikan karena lebih ketat dibandingkan penelitian sebelumnya ketika menggali hubungan antara berjalan kaki dan gangguan metabolisme tubuh.

"Berapapun catatan langkah seseorang itu sangat penting bagi kesehatan mereka. Peneliti mengukur catatan berjalan yang dilakukan, bukan pada seberapa cepat anda berjalan. Namun, berjalan santai baik untuk kesehatan Anda," pungkasnya.

Republika OnLine » Gaya Hidup » Info Sehat Mau Turunkan Tekanan Darah? Kurangi Minuman Manis Dong..ah.


Mengurangi minuman manis diperkirakan dapat membantu menurunkan tekanan darah.
Sejumlah peneliti di Amerika Serikat menemukan bahwa orang-orang yang mengalami kelebihan berat badan dengan tekanan darah tinggi yang meminum satu minuman dengan sedikit gula per hari dapat menurunkan tekanan darah secara berarti selama 18 bulan. Bagi sebagian besar penduduk Amerika hal itu berarti mengurangi asupan minuman ringan setengahnya.

"Kami menemukan bahwa jika anda menurunkan konsumsi minuman bergula, hal itu mungkin membantu anda menurunkan tekanan darah," kata Dr Liwei Chen dari Pusat Ilmu Kesehatan Universitas Negeri Louisiana, yang penemuannya dimuat dalam jurnal "Circulation". "Jika anda mengurangi konsumsi sebesar dua 'serving', mungkin anda akan menurunkan tekanan darah anda lebih banyak," kata Chen seperti dikutip Reuters.

Penelitian itu menambah tekanan bagi perusahaan makanan dan minuman di AS yang sudah meningkat saat peraturan kesehatan dikeluarkan yang menggeser fokus negara itu pada cara-cara mencegah penyakit serta pengobatannya. Menurut Asosiasi Jantung Amerika, terlalu banyak gula tidak hanya menyebabkan orang menjadi lebih gemuk, tetapi juga dapat mengakibatkan diabetes, penyakit jantung dan stroke.

Sejumlah negara bagian, termasuk New York dan California, mengenakan pajak pada minuman ringan bergula untuk membiayai ongkos pengobatan penyakit yang berkaitan dengan obesitas. Laporan dari "US Institute of Medicine" pada Februari menyebutkan bahwa tekanan darah tinggi sebagai "penyakit yang diabaikan" di AS. Penyakit itu menyebabkan satu dari enam kematian dan menambah biaya kesehatan sebesar 73 miliar dolar per tahun.

Penelitian Chen khusus mengamati dampak asupan gula pada tekanan darah. Tim itu menggunakan data 810 orang dewasa berusia 25 hingga 79 tahun dengan batasan tekanan darah tinggi 120/80 hingga 139/89 -- dan tahap I hipertensi -- 140/90 hingga 159/99. Pada awal penelitian, orang-orang itu meminum 10,5 ounce (310 ml), atau satu "serving" minuman bergula per hari. Minuman itu termasuk minuman yang diberi gula atau sirup jagung dengan kandungan fruktosa tinggi seperti minuman ringan, minuman buah, dan limun.

Setelah 18 bulan, konsumsi rata-rata turun setengahnya, dan baik tekanan darah sistolik -- "angka atas" pada bacaan tekanan darah saat jantung berdetak -- dan tekanan darah diastolik -- "angka bawah" pada bacaan tekanan darah -- turun secara mencolok. Mereka mengatakan mengurangi satu minuman ringan per hari menghasilkan penurunan 1,8 milimeter tetes merkuri pada tekanan darah sistolik dan menurunkan tekanan darah diastolik 1,1 milimeter merkuri. "Penurunan berat badan menjadi bagian dari alasan itu tetapi tidak secara keseluruhan," kata Chen.

Ia menambahkan, bahkan setelah mengendalikan berat badan, perbaikan tekanan darah tetap signifikan.
Ia mengatakan, kaum dewasa Amerika meminum rata-rata 2,3 "serving" (28 ounce/828 ml) minuman bergula per hari. Asosiasi minuman Amerika mengatakan minuman bergula tidak menyebabkan risiko kesehatan secara khusus, dan bukan faktor risiko bagi obesitas atau penyakit jantung.

Obat Herbal Kurang Cespleng, Benarkah?


Mendengar kata herbal, apa yang terlintas di benak Anda? Kendati masyarakat telah turun-temurun memanfaatkannya dalam pengobatan, herbal tetap saja lebih inferior ketimbang obat konvensional. Betulkah ia kurang cespleng?

Menjawab pertanyaan tersebut, ahli herbal, Dr dr Amarullah H Siregar FBIHom DIHom DNMed menyodorkan sejumlah argumentasi ilmiah. Belajar naturopati di Inggris dan Amerika, ia mendapati banyak sekali daun, akar, ataupun benalu tumbuhan yang berkhasiat obat. "Di lain sisi, seperti yang diumumkan WHO pada awal 2006 lalu, 1035 obat yang telah disetujui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat sepanjang tahun 1989 sampai 2000, tiga perempatnya ternyata tak memiliki makna mengobati."

Di Indonesia, obat dari bahan alami mayoritas masih masuk dalam kelas jamu dan obat herbal terstandar. Baru lima saja yang telah berada di golongan fitofarmaka terbukti memiliki khasiat serupa obat konvensional. "Padahal, hampir semua obat bisa disubstitusi dengan bahan alami," komentar dokter yang mendalami naturopati ini.

Sebut saja, antibiotik. Sesuai namanya, antibiotik berarti antibiota. "Saat dikonsumsi, bakteri baik yang hidup di saluran pencernaan juga ikut terbunuh," ungkap Amarullah dalam Media Discussion Sehat dengan Herbal yang digelar Deltomed, Rabu (19/5) lalu, di Jakarta.

Ini berarti penggunaan antibiotik malah memunculkan masalah kesehatan yang baru. Orang yang mendapatkan antibiotik jangka panjang otomatis membutuhkan suplemen yang dapat menyuburkan kembali populasi bakteri sahabat saluran cerna. "Kalau ditunggu, ia baru bisa mencapai jumlah yang cukup setelah 48 sampai 54 hari kemudian," kata Amarullah yang juga konsultan homeopathic medicine.

Lalu, sekarang, mari simak bagaimana meniran menjalankan perannya sebagai antibiotik alami. Amarullah menuturkan, meniran pintar mengenali sumber masalah. "Hanya bakteri jahat saja yang ditumpasnya."

Namun, sebetulnya, bukan bahan aktif meniran yang berperang secara langsung. Meniran justru mendorong tubuh untuk bisa menyembuhkan diri sendiri. "Meniran mengaktifkan produksi kelenjar timus di paru-paru dan meningkatkan pasokan sel limfosit T yang berkaitan dengan ketangguhan imunitas hingga mampu mematikan bakteri jahat di tubuh," urai dokter naturopati jebolan Clayton College of Natural Health, Birmingham, Amerika Serikat.

Begitu keluhan hilang, konsumsi meniran bisa dihentikan. Tidak seperti antibiotik konvensional yang memang harus diminum sampai habis sesuai jumlah dan dosis yang diresepkan. "Obat herbal andaikan tak dibutuhkan tubuh akan langsung keluar melalui urine, tidak akan menumpuk di dalam tubuh," urai dokter yang memiliki klinik di Ragunan, Jakarta Selatan, ini.

Lebih lanjut, Amarullah mengajak masyarakat agar mengubah paradigmanya. Berobat bukan cuma menghilangkan gejala yang dikeluhkan. "Carilah kesembuhan dengan melacak akar penyakitnya." Amarullah mencontohkan kasus darah tinggi. Tak bijak jika penyakit ini cuma diredakan atau distabilkan dengan obat. "Akar penyakitnya ada di ginjal dan organ itulah yang mesti dikembalikan vitalitasnya."

Persoalannya, spesialis jantung dan kardiovaskular bukan dokter ginjal. Pasien harus ke dokter lain untuk mendapatkan pengobatan. "Sementara itu, dalam naturopati, ilmu kedokteran ini memperlakukan tubuh manusia sebagai satu kesatuan hingga tidak luput merevitalisasi ginjal pasien darah tinggi," kata Amarullah yang dipercaya menyusun kurikulum mata kuliah naturopati di Indonesia.

Obat herbal, lanjut Amarullah, tersedia juga untuk kondisi akut. Contohnya, obat batuk, pilek, serta radang tenggorokan pada anak. "Sudah tersedia dalam bentuk sirup dengan isi ekstrak jahe, cengkeh, lengkuas, kapulaga, dan kunyit yang berefek antiradang lalu dipermanis dengan madu atau gula aren."

Seiring dengan meredanya batuk, pilek, serta radang tenggorokan, Amarullah mengimbau agar sistem imunitas diperkuat. Untuk itu, antibodi harus digenjot. "Bisa dengan mengonsumsi meniran." Untuk pencegahan serangan batuk pilek berulang, Amarullah memberikan tips sederhana.
Minum saja bandrek. "Bisa juga dengan mencampur setengah serbuk bandrek dengan jahe plus lengkuas ketika terasa suara mulai parau dan bindeng."

Gawat, Perokok Pasif Bisa Juga Mengalami Ketergantungan


JAKARTA--Ketergantungan tak hanya identik dengan penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau narkoba. Kalangan medis berkeyakinan, ketergantungan rokok lebih berat ketimbang narkoba.

Menurut Pengajar Departemen Kardiologi dan Vaskuler, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. H. Aulia Sani, SpJK(K), untuk melepaskan diri dari ketergantungan kokain atau morfin memerlukan perjuangan keras sampai harus direhabilitasi. Namun, lepas dari rokok 5 hingga 10 kali lipat lebih sulit dari narkoba.

"Ketika seseorang merokok, nikotin akan terserap dalam darah dan diteruskan ke otak. Kemudian,reseptor alpha 4-Beta 2 yang menerima nikotin dalam otak akan memicu pelepasan hormon dopamin yang memberi rasa aman," ungkapnya, saat berbicara dalam acara "Break Free" Semangat Bebaskan Diri Dari Jeratan Adiksi Nikotin, di Jakarta, Rabu, (26/5).

Ketika kadar hormon berkurang, maka orang akan kembali merokok. "Inilah yang membuat seseorang ketagihan rokok dan rasa ketagihan itu sulit dihilangkan lantaran faktor dopamin," tegasnya.

Efek ketagihan ini, lanjut Aulia menjelaskan, mengakibatkan efek psikoaktif 5-10 kali lebih banyak ketimbang kokain dan morfin dan jauh lebih mudah memperoleh rokok jauh dibanding narkoba.

Yang tak kalah berbahaya, ketagihan tidak hanya menimpa perokok aktif. Perokok pasif juga bisa mengalami hal yang sama. Hanya saja, tingkat ketagihan tidak separah efek ketagihan perokok aktif.

"Perokok pasif juga bisa mengalami ketergantungan, dan efek pada perokok pasif ini jauh lebih berbahaya karena menghirup pembakaran zat lain," tukas pakar kejiwaan, Triwibowo T Ginting.

Menurutnya, kadar nikotin yang dihirup perokok pasif tercampur pula dengan pembakaran zat lain. Akibatnya, nikotin yang masuk ke dalam reseptor alpha 4 beta-2 mempengaruhi keingan mengirup kembali asap rokok. "Sekali lagi, itu tidak berbahaya ketimbang perokok aktif. Namun, sebaiknya menjauhi asap rokok," tukasnya.

Seandainya, individu sudah ketagihan. Sebaiknya yang bersangkutan mengikuti program menghilangkan ketergantungan nikotin. Program yang dimaksud tentu jauh lebih ringan ketimbang perokok pasif. Penangan yang diberikan lebih kepada pemberian informasi tentang bahaya rokok, motivasi dan solusi menghadapi ruangan berasap rokok.

Butuh Pendamping

Dalam kesempatan yang sama, Triwibowo T Ginting juga memaparkan saat ini terdapat 70 persen perokok ingin berhenti, tetapi hanya 5-10 persen yang dapat berhenti tanpa bantuan orang lain.

Ia menyebut, perokok selalu memiliki banyak alasan untuk mempertahankan kebiasaan merokoknya sekalipun ingin berhenti."Motivasi kuat dari perokok itu sendiri untuk berani berhenti dan motivasi dukungan juga diperlukan dari lingkungan sekitar perokok tersebut," tukasnya.

Tribowo menuturkan, untuk menumbuhkan motivasi berhenti merokok dapar dilakukan dengan cara menceritakan dampak-dampak negatif merokok baik dari segi kesehatan maupun dampak ekonomi dan sosial. "Cerita itu harus diulangi secara terus menerus sehingga perokok ragu untuk merokok," singkatnya.

Namun, kata dia, hal utama yang harus dipenuhi adalah kepercayaan kepada perokok ketika berniat untuk berhenti. Sayangnya, sebagian masyarakat cenderung acuh dan tidak menghargai perokok untuk berhenti. Padahal melalui kepercayaan ini dapat menumbuhkan sikap percaya diri perokok untuk mulai berhenti.

Usai memberikan kepercayaan kepada perokok, ia menyarankan kepada setiap anggota keluarga atau lingkungannya untuk menghabiskan waktu bersama guna menghilangkan keinginan merokok.

"Habiskan waktu dengan kegiatan positif seperti menonton film bersama, atau berolahraga. Keluarga juga dapat membantu seperti mengalihkan keinginan melalui permen atau buah-buahan," sarannya.

Setelah itu, kata Triwibowo, yakinkan para perokok bahwa mereka sanggup mengubah gaya hidup jauh lebih sehat.

Gigi Kotor Bisa Sebabkan Gangguan Jantung?


REPUBLIKA.CO.ID, PARIS--Anda jarang membersihkan gigi. Waspadalah, ternyata gigi yang kotor meningkatkan risiko gangguan jantung. Fakta ini terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh University College London, Skotlandia. Mereka yang menggosok giginya dua kali sehari, lebih kecil risikonya terkena gangguan jantung.

Penelitian ini dijalankan dengan melibatkan 11 ribu responden di Skotlandia. Mereka ditelusuri silsilahnya, rekam mediknya, juga gaya hidupnya. Sebanyak 7 dari 10 responden mengaku menggosok gigi dua kali sehari. Sedangkan 6 dari 10 responden menyatakan rutin periksa ke dokter gigi tiap enam bulan sekali.

Mereka yang jarang menggosok gigi, memiliki 70 persen lebih tinggi risiko terserang penyakit jantung. Faktor tersebut tidak berubah ketika unsur lain yang mendorong gangguan jantung seperti merokok, konsumsi alkohol, obesitas, dan sebagainya, ikut dihitung.

Namun British Medical Jurnal melaporkan bahwa penelitian tersebut secara keseluruhan kaitan antara kebersihan gigi dan serangan jantung masih rendah. Saat ini diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan hubungan tersebut. Apakah gigi yang kotor benar-benar menjadi penyebab gangguan jantung, ataukah hanya sekadar indikator risiko?